Guest Book

Pengunjung / Visitor

Kamis, 25 Februari 2010

Islam: Mengutamakan Ibu

Dalam hal berbakti kepada kedua orangtua, Islam menempatkan ibu pada posisi di atas posisi ayah. Nabi SAW bersabda, “Kewajiban anak berbakti kepada ibu berbanding dua kali lipat berbakti kepada ayah.” Bahkan, ketika ada seorang sahabat yang meminta izin untuk bisa turut berperang, Nabi lebih mengutamakan berbakti pada ibu daripada berjihad pada sahabat itu.
Penghormatan Islam terhadap posisi ibu terkait dengan begitu besarnya peran ibu dalam proses terlahirnya seseorang ke dunia. Allah SWT berfirman, “Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS 46:15). Di ayat yang lain, Allah juga berfirman, “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu.” (QS 31:14).
Pada kedua ayat di atas, juga di ayat lain yang menggambarkan peran ibu, Allah selalu memulainya dengan memerintahkan untuk berbakti. Ini menjadi petunjuk bahwa begitu besar kewajiban berbakti kepada orangtua, terutama ibu. Saking besarnya kewajiban itu, Allah hingga melarang mengucapkan sepatah kata saja yang melukai perasaan orangtua. Allah berfirman, “Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS 17:23).
Banyak kisah bersaksi tentang begitu besar akibat yang ditimbulkan bila mendurhakai ibu. Pada masa Bani Israil, ada seorang lelaki yang sangat rajin beribadah bernama Juraij harus menelan fitnah keji dituduh berzina dengan pelacur hingga berbuah anak, lantaran ia mengabaikan panggilan ibunya. Padahal, saat ibunya memanggil, ia dalam keadaan salat. Kisah lain yang juga cukup mencengangkan adalah kisah Alqamah, seorang sahabat Nabi yang terpandang. Ia tidak bisa mengucapkan kalimat syahadat saat hendak menemui ajal. Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya adalah ia memberi buah-buahan untuk istri dan anaknya, sementara ibunya tidak diberi. Legenda Malin Kundang juga menyiratkan pelajaran yang sama.
Disadari atau tidak, kita sering kali mengabaikan keberadaan ibu kita. Interaksi kita dengan dunia luar membuat kita—sengaja atau tidak—lupa bahwa ada surga di rumah kita, yaitu ibu. Ketika sudah berkeluarga, waktu kita juga seolah hanya tersita untuk pekerjaan dan keluarga kita sendiri, sementara orangtua kita menempati posisi kesekian dalam daftar prioritas pemanfaatan waktu. Padahal, Rasulullah SAW berpesan, “Rida Allah itu tergantung pada keridaan orangtua kita.”
Mungkin satu hal yang bisa dilakukan untuk menebus kesalahan kita kepada orangtua itu adalah mendoakannya. Doa untuk orangtua yang diajarkan Nabi, “Ya Allah, ampuni saya dan kedua orangtua saya sebagaimana keduanya telah mendidik saya di waktu kecil.”

Sumber: http://www.cahaya-islam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=158
Oleh: Syarif Hade Masyah

0 komentar:

About Me

Foto saya
Seorang sarjana farmasi yg antusias dengan dunia teknologi, otomotif, yg dituangkan ke dalam blog.